Site icon KABAR27

ISPA Meningkat, Dinkes Ternate Siapkan Strategi Pengendalian

Tim gabungan Dinas Kesehatan bersama IDI Cabang Kota Ternate melakukan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar TPA Buku Deru-Deru Takome (foto indotimur)

Tim gabungan Dinas Kesehatan bersama IDI Cabang Kota Ternate melakukan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar TPA Buku Deru-Deru Takome (foto indotimur)

Kabar27 – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia termasuk di kawasan Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru Takome, Kecamatan Ternate Barat, membawa dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan Kota Ternate mencatat adanya lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring menurunnya kualitas udara di wilayah tersebut akibat kabut asap.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), pada minggu ke-39 tahun 2026 atau saat Karhutla mulai terjadi, jumlah kasus ISPA di Kota Ternate melonjak hingga 446 kasus. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar 38 persen dibandingkan minggu ke-38 yang mencatat 321 kasus.

Secara khusus, peningkatan signifikan terlihat di wilayah kerja Puskesmas Sulamadaha yang berada di dekat lokasi kebakaran.

Pada minggu ke-36 hingga 38, Puskesmas Sulamadaha mencatat rata-rata 37 kasus ISPA. Namun, memasuki minggu ke-39, jumlahnya melonjak menjadi 51 kasus, atau bertambah 36 kasus jika dibandingkan periode minggu ke-37 hingga 39.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, didampingi Kasi P2P dr. Wirda Albaar, menjelaskan, peningkatan kasus ini memang terjadi bersamaan dengan munculnya kabut asap akibat kebakaran pada sejumlah wilayah termasuk di kawasan TPA Buku Deru-Deru.

Kendati demikian, pihak Dinkes menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung.

“Data menunjukkan peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan kondisi asap Karhutla. Namun, hal itu tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung,” ujar dr. Fathiyah, Jumat (16/10/2026).

Dia menambahkan, definisi kasus ISPA yang terdata saat ini mayoritas merupakan ISPA ringan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga iritasi akibat paparan asap.

“Dibutuhkan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor perubahan musim, peningkatan penjaringan kasus oleh petugas di lapangan, serta data resmi kualitas udara,” terangnya.

Meski masih memerlukan analisis mendalam, Dinas Kesehatan Kota Ternate tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam merespons situasi ini dan menganggap asap Karhutla sebagai risiko kesehatan yang serius bagi warga.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dinas Kesehatan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya, penguatan mitigasi, pemantauan tren lanjutan, analisis kualitas udara serta pemetaan wilayah terdampak.

Dinas Kesehatan Kota Ternate memperketat edukasi penggunaan masker dan meningkatkan perlindungan bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, dan penderita komorbid).

Selain itu, melalui Puskesmas, Dinkes secara intens dan berkala melakukan pemantauan tren kasus ISPA pada minggu ke-40 dan 41 untuk melihat apakah angka kasus akan menurun seiring hilangnya asap.

Mengolaborasikan data partisulat harian (PM_{2.5}) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate untuk menguji korelasi dampak asap terhadap kesehatan.

Serta memisahkan dan membandingkan data ISPA pada kelompok rentan yang tinggal di radius dekat (kurang dari 1 km) dari lokasi TPA dengan warga yang tinggal lebih jauh.

Dengan langkah-langkah penanganan ini, Dinkes berharap peningatan kasus ISPA dapat terkendali sembari menunggu proses pemadaman area TPA Buku Deru-Deru rampung secara menyeluruh.

Dinas Kesehatan Kota Ternate juga menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah. “Jika tidak mendesak, sebaiknya tetap berada di rumah untuk menghindari paparan asap,” imbau Dinkes Ternate.

Exit mobile version