KabarHalbar – Polsek Ibu Kecamatan Halmahera Barat dan dan 25 personel Satuan Brimob Polda Maluku Utara dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan puing-puing sisa material yang terbawa banjir.
Untuk pasaukan brimob dikerahkan ke Kecamatan Ibu Tengah, Kabupaten Halmahera Barat, Kamis, (8/1/2026). Para personel ini difokuskan untuk melakukan percepatan pembersihan sisa-sisa material banjir yang melumpuhkan aktivitas warga sejak sehari sebelumnya.
Di bawah komando Iptu Asri Ela, pasukan baret biru ini menyisir rumah-rumah warga yang terendam lumpur pekat. Menggunakan alat seadanya, petugas bersama warga bahu-membahu menyingkirkan sampah dan endapan material yang masuk ke dalam hunian agar segera layak ditempati kembali.
Salah satu titik fokus utama pembersihan adalah jembatan di kawasan Kampung Cina, Ibu Tengah. Jembatan yang menjadi akses vital bagi mobilitas warga dan distribusi logistik tersebut sebelumnya sempat tertutup total oleh material kayu dan tumpukan sampah yang terbawa arus sungai.
Kabid Humas Polda Maluku Utara, Kombes Pol. Wahyu Istanto Bram, menyatakan bahwa kehadiran Brimob di lokasi bencana merupakan respons cepat untuk memulihkan infrastruktur publik. “Kondisi jembatan sempat menghambat aktivitas masyarakat. Hari ini kami pastikan akses tersebut kembali terbuka agar mobilitas warga tidak terganggu,” ujar Wahyu, Kamis siang.
Menurut Wahyu, keterlibatan Brimob dalam penanganan pascabencana ini adalah bagian dari peran aktif Polri dalam misi kemanusiaan. Selain membantu evakuasi fisik, kehadiran petugas di lapangan juga bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi warga yang sedang berusaha memulihkan tempat tinggal mereka.
“Polri tidak hanya hadir untuk fungsi keamanan, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam kegiatan kemanusiaan. Kami ingin memastikan kondisi lingkungan kembali pulih dalam waktu singkat,” tambahnya.
Kegiatan pembersihan ini dilakukan secara intensif mengingat cuaca di wilayah Halmahera Barat masih sulit diprediksi. Langkah cepat ini diharapkan dapat meminimalkan dampak psikologis dan kerugian material yang lebih besar bagi warga terdampak.
Saat ini, akses jembatan di Kampung Cina dilaporkan sudah mulai bisa dilalui kembali secara terbatas, sementara pembersihan rumah warga masih terus berlangsung di beberapa titik paling parah.
Sementara Kapolsek Ibu, Ipda Imam Eko Akbar, menggambarkan betapa cepatnya air naik. Sejak pukul 07.30 WIT, dia bersama personelnya sudah berjibaku di tengah kepungan air untuk mengevakuasi warga. “Kami fokus pada penyelamatan jiwa dan barang berharga warga, sembari memastikan jalur evakuasi tetap terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, titik paling memprihatinkan terpantau di Kampung Cina, Desa Tongute Ternate Asal. Di sini, air bukan lagi sekadar genangan, melainkan bahaya setinggi satu hingga tiga meter. Intensitas air yang begitu kuat menyapu apa saja di jalurnya.
Dampaknya masif. Sektor ekonomi warga lumpuh seketika. Gudang kopra milik seorang pengusaha bernama Ko Hengki hanyut terbawa arus, menyebabkan kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta. Nasib serupa menimpa usaha sembako milik Hj. Amba dengan kerugian mencapai Rp600 juta. Bahkan, bangunan Pasar Ikan yang menjadi pusat niaga warga luluh lantak tersapu bah.
Di Desa Duono, dua rumah milik Barto Bani dan Niklas Jangu dilaporkan hilang total. Tak ada yang tersisa dari bangunan kayu itu; semuanya diseret arus hingga ke titik tak berbekas. Di pesisir, dua perahu nelayan di Desa Tongute Ternate pun ikut raib ditelan banjir, memutus mata pencaharian warga sementara waktu.
Penderitaan warga tak berhenti pada air. Di daratan, tanah mulai bergerak. Longsor terjadi di Desa Gamkonora, Ngawet, hingga Gunung Cengki. Material tanah dan bebatuan di Gunung Cengki menutup akses jalan utama, memutus urat nadi transportasi menuju wilayah Ibu Selatan. Kendaraan logistik dan pribadi terjebak, tak mampu menembus timbunan tanah yang licin.
Hingga pukul 12.00 WIT, bantuan dari Sat Samapta Polres Halmahera Barat dan Polairud tiba untuk memperkuat tim Tagana yang sudah lebih dulu berada di lapangan. Mereka bahu-membahu membersihkan batang pohon dan lumpur yang menyumbat jembatan di Desa Gamlamo menggunakan peralatan seadanya.
Menjelang sore pukul 15.50 WIT, meski air dilaporkan mulai surut, sisa-sisa kehancuran masih berserakan. Lumpur tebal dan potongan kayu memenuhi lantai rumah warga. Beruntung, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa, meski kerugian materiel diprediksi menembus angka miliaran rupiah.
Polri kini menyiagakan personel di titik-titik rawan untuk mengantisipasi banjir susulan. “Cuaca masih tidak menentu. Kami meminta warga yang bermukim di bantaran sungai dan lereng bukit untuk tetap waspada dan segera mengungsi jika debit air kembali naik,” kata Ipda Imam Eko.
Bagi warga Ibu, sore itu adalah awal dari proses panjang untuk memulihkan kembali sisa-sisa kehidupan yang sempat hanyut diterjang air.

