JAKARTA – Kolaborasi anak muda dari ufuk timur Indonesia menggema di Backyard Hotel Borobudur Jakarta, Minggu (26/4/2026). Melalui acara “Bacarita Basudara” Forum diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Discover the Natural Treasure Tidore-Ternate yang bertujuan mengangkat potensi ekonomi kreatif, sejarah, dan kearifan lokal Maluku Utara ke level nasional hingga internasional.
Acara yang mempertemukan pemuda dari berbagai daerah termasuk Maluku Utara, Maluku, dan Papua ini diselenggarakan atas sinergi antara APEKSI, Manajemen Hotel Borobudur, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Pemerintah Kota Ternate, dan Timur Network.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar memberikan dorongan kuat bagi para pelaku kreatif daerah untuk berani melakukan transformasi budaya kerja serta pentingnya kejujuran profesional dan keberanian berpendapat.
“Hubungan kerja yang baik adalah yang berani jujur apa adanya. Kritik yang membangun adalah bentuk kepedulian nyata,” tegas Wamen Irene.
Terkait strategi pemasaran, Wamen Irene mengusulkan konsep “Limited Edition” untuk wilayah seperti Maluku Utara. Mengingat aksesibilitas yang menantang, strategi ini dinilai lebih efektif dibanding produksi massal (mass production).
“Maluku Utara harus diposisikan sebagai pengalaman unik yang membuat orang rela membayar mahal dan mengantri untuk mendapatkannya, seperti wisata Gorila di Uganda,” tambahnya.
Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Teknologi, Tiar Nabila Karbala, menyoroti pentingnya literasi digital dan implementasi Artificial Intelligence (AI) bagi UMKM di daerah, menurutnya, digitalisasi tidak boleh hanya berpusat di Jakarta.
Dia juga mengapresiasi, wadah kewirausahaan lokal dan menyatakan kesiapan untuk membawa para ahli dari Jakarta ke Ternate dan Tidore guna mendorong percepatan pembangunan ekonomi kreatif melalui jaringan seperti Timur Network.
Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman dalam kesempatan tersebut, menyoroti pentingnya teknik storytelling dalam memperkenalkan daerah.
Dia mengingatkan, kembali sejarah 8 November 1521, saat Sebastian D’elcano singgah di antara Pulau Maitara dan Tidore, sebuah catatan krusial yang membuktikan pada dunia bahwa bumi itu bulat.
“Kita punya Teluk Kahia Masolo di pulau Mare yang menjadi tempat lumba-lumba berkumpul, hutan lindung habitat Burung Bidadari dan sejarah dunia. Semua ini butuh narasi yang kuat agar dunia tertarik berkunjung,” ungkap Ahmad Laiman.
Sementara, Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam menegaskan, bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar nyata untuk menghubungkan potensi lokal ke pasar global. Beliau mengapresiasi langkah proaktif Pemerintah Kota Tidore dan Ternate yang “menjemput bola” agar UMKM lokal bisa masuk ke level “bintang lima”.
Dukungan sektor swasta, seperti Artha Graha Group, Hotel Borobudur, serta keterlibatan tokoh media dan komunikasi seperti Bayu Oktara, menjadi elemen kunci dalam melatih kemampuan public speaking dan branding para penggerak ekonomi kreatif di daerah.
Acara ditutup dengan pesan kuat mengenai kemandirian. Wamen Irene Umar mengingatkan tentang “Ilmu Kepepet” kreativitas yang muncul di tengah keterbatasan anggaran dan pentingnya membangun sistem bisnis yang berkelanjutan yang tetap berjalan bahkan setelah masa jabatan pemerintahan berakhir.
Melalui Bacarita Basudara, Maluku Utara tidak lagi hanya bercerita untuk dirinya sendiri, tetapi mulai menitipkan narasinya kepada dunia sebagai harta karun nasional yang tak ternilai.

