Kabar27 – Yayasan Sayid Abubakar Bin Husen Al-Attas Azzabidi sejak tahun 1980 telah banyak membantu masyarakat di Indonesia terutama di wilayah Maluku Utara.
Terbaru, Yayasan milik Mufti Besar 4 Kesultanan di Indonesia Timur itu, menyalurkan zakat bagi 343 penderita kusta di Kota Ternate.
Zakat dan santunan ini diserahkan langsung oleh Habib Abubakar Bin Hasan Al-Attas Azzabidi didampingi Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, pada Selasa (11/3/2025) di Sentra Wasana Bahagia, Kementerian Sosial di Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan.
Pengurus Yayasan Sayid Abubakar Bin Hasan Al-Attas Azzabid, dr Moh Alhabsy mengatakan, sudah 45 tahun Habib Abubakar memberikan sadakah dan zakat kepada masyarakat di Provinsi Maluku Utara dan provinsi lain di Indonesia.
Santuan atau zakat ini juga diberikan untuk masyarakat kurang mampu di Banjarmasin, Makassar, Jakarta dan beberapa wilayah timur Indonesia, termasuk Maluku Utara.
“Anggaran yang disiapkan sebesar Rp3 sampai 7 miliar, bukan hanya kepada penderita kusta tetapi juga untuk pemderita HIV/AIDS, distabilitas termasuk petugas kebersihan di daerah Halsel dan Halut,” tutur dr Moh Alhabsyi.
Sementara itu, Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman yang juga murid Habib Abubakar menyampaikan, terima kasih kepada Al Habib Abubakar Bin Husen Al-Attas Azzabidi yang terus melaksanakan kegiatan jariyah selama kurang lebih 45 tahun di berbagai daerah terutama di Kota Ternate.
“Banyak manfaat yang didapatkan warga kami para penderita dan mantan penderita, ini sekaligus bagian amal kita di bulan suci Ramadan pada puasa hari ke-11 melaksanakan kegiatan yang penuh hikmah dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT,” ungkap Wali Kota.
Dia berharap, santunan yang diberikan ini dapat bermanfaat, terutama untuk bisa memenuhi kebutuhan di bulan Ramadan.
Sementara itu, Habib Abubakar mengatakan, dana yang diberikan untuk kaum duafa penderita kusta, penderita HIV, tuna rungu, cacat itu sudah berjalan selama 45 tahun tanpa ada bantuan pemerintah.
“Dari 45 tahun yang lalu dari mulai Ternate masih berstatus kabupaten sampai menjadi Gubernur (Provinsi) juga tidak ada bantuan dari Bupati, tokoh-tokoh kesultanan dan masyarakat,” tuturnya.
Menurut Habib, alasan misi kemanusiaan ini karena Habib berasal dari keluarga miskin sehingga tahu nilai kelaparan.
“Saya dari keluarga miskin, saya tahu betul harga atau nilai kelaparan, saya tahu nilai kemiskinan. Saya kuliah di Mesir dengan susah payah, disitu saya dapat melihat orang yang perlu dibantu. Sejak saat itu saya cari caranya bagaimana bisa membantu orang,” tutupnya.

