Kabar27- Masyarakat Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara, kembali menggelar Ritual Ake Ma Sou di kawasan mata air Ake Gaale, Senin (3/8/2026).
Tradisi tahunan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian mata air yang menjadi penopang utama kebutuhan warga Kota Ternate.
Prosesi adat yang berlangsung khidmat dan sederhana tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Ternate M Tauhid Soleman, jajaran Perumda Ake Gaale, Komunitas Save Ake Gale, serta masyarakat setempat.
Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, menegaskan, Ake Ma Sou bukan sekadar seremoni kebudayaan tahunan, melainkan bentuk kearifan lokal yang lahir dari nilai-nilai ekologis para leluhur.
“Ritual ini adalah tradisi lama yang memuat kepercayaan untuk menguatkan masyarakat dalam menjaga sumber air. Kearifan lokal seperti ini semestinya terus dipelihara,” ujar Tauhid.
Dia mengingatkan, sekitar 60 persen kebutuhan air bersih di Kota Ternate disuplai langsung dari mata air Ake Gaale. Oleh karena itu, ajaran leluhur—seperti larangan membuang sampah, meludah, maupun buang air di sekitar sumber air—merupakan aturan sederhana yang tetap sangat relevan untuk menjaga kualitas lingkungan hingga hari ini.
Tauhid berharap kesadaran kolektif dari ritual ini dapat terus bertumbuh di tengah meningkatnya tantangan perubahan lingkungan di kawasan perkotaan.
Penyelenggaraan Ritual Ake Ma Sou merupakan inisiatif murni dari warga Sangaji bersama Komunitas Save Ake Gale.
Perumda Ake Gaale hadir sebagai mitra kerja yang mendukung penuh gerakan pelestarian berbasis komunitas tersebut.
Direktur Utama Perumda Ake Gaale Ternate, Firman Mudaffar Sjah, menyampaikan bahwa upaya perlindungan sumber daya air tidak cukup hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur fisik.
“Perlindungan sumber air butuh modal sosial dan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Kami sangat mendukung inisiatif warga Kelurahan Sangaji yang secara konsisten menjaga kawasan resapan air ini,” ungkap Firman.
Ketua Komunitas Save Ake Gaale, Alwan Arif, menilai tradisi ini sebagai sarana vital untuk merawat ingatan publik agar nilai-nilai perlindungan alam tidak hilang tergerus zaman. Saat ini, banyak saluran dan resapan air di wilayah perkotaan terancam tercemar akibat kurangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Alwan juga menegaskan bahwa pelaksanaan Ake Ma Sou tidak berkaitan khusus dengan kondisi cuaca atau musim kemarau yang sedang melanda Maluku Utara.
“Tradisi ini tetap dijalankan secara rutin setiap tahun, baik musim hujan maupun kemarau. Namun, saat debit air mulai menurun di musim kering, momentum ini menjadi pengingat kuat bahwa keberlangsungan air sangat tergantung dari bagaimana cara kita merawatnya,” terang Alwan.
Di tengah pesatnya laju modernisasi, Ritual Ake Ma Sou menjadi bukti nyata bahwa pengetahuan lokal dapat menjadi benteng ekologis yang efektif. Menjaga mata air Ake Gaale bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan warisan kehidupan bagi generasi mendatang.
