NEWS  

Api Permukaan TPA Takome Padam 70 Persen, BPBD Ternate Berjibaku Jinakkan Bara Bawah Tanah

Kabar27 – Upaya penanganan kebakaran lahan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Takome terus menunjukkan perkembangan positif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate melaporkan bahwa hingga pertengahan Oktober 2026, sekitar 70 persen api di permukaan lahan telah berhasil dipadamkan.

Rambatan api yang sempat mengancam kawasan perkebunan dan permukiman warga kini telah berhasil dilokalisir.

Kendati demikian, tim gabungan kini harus berhadapan dengan tantangan utama, yakni api sub-permukaan (subsurface fire) yang terjebak di kedalaman 5 hingga 10 meter di bawah tumpukan sampah padat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Ternate, Tonny S. Pontoh, menjelaskan, penanganan kebakaran TPA berbeda signifikan dengan kebakaran lahan atau karhutla konvensional.

Menurutnya, tumpukan sampah yang tebal mengandung gas metana (\text{CH}_4) bertekanan tinggi yang memicu reaksi pembakaran terus-menerus di bawah tanah meskipun permukaan atas terlihat padam.

“Menyemprot TPA hanya dari luar tanpa membongkar lapisan sampah adalah pemborosan air. Api TPA adalah operasi pembongkaran, bukan sekadar penyiraman. Karena itu, kami menerapkan strategi ‘Tri-Tactic’ yang memadukan pembongkaran mekanis, penyiraman intensif, dan penimbunan tanah,” ungkap Tonny S. Pontoh.

Guna menuntaskan sisa 30 persen titik api bawah tanah, Satuan Tugas (Satgas) Gabungan menerjunkan taktik terintegrasi.

Pembongkaran dilakukan dengam menggunakan 2 unit ekskavator milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membongkar kerak sampah padat dan mengurai kantong gas metana.

Tim gabungan juga melakukan penyiraman bertekanan tinggi ( ooling) secara langsung ke dasar lubang menggunakan armada armada DAMKAR, Water Cannon Polres Ternate, Balai PBPK Kementerian PU, Dinas PU, serta PDAM dengan volume mencapai ratusan ribu liter per hari.

Langkah berikutnya adalah penimbunan tanah (Smothering) dengan menutup area yang telah didinginkan dengan rata-rata 20–39 rit tanah galian per hari untuk memutus pasokan oksigen secara total.

Sinergi ini melibatkan kekuatan penuh dari BPBD, TNI, POLRI, Basarnas, Damkar, Dinas PU, DLH, Dinas Kesehatan, serta dukungan swasta dan masyarakat setempat.

Berdasarkan Keputusan Wali Kota Ternate No. 149 & 151 Tahun 2026, Status Tanggap Darurat ditetapkan selama 14 hari (3–16 Oktober 2026).

Kebakaran area TPA seluas \pm11 hektar ini berdampak langsung pada kualitas udara di kawasan sekitarnya, khususnya Kelurahan Sulamadaha dan Takome. Pengukuran Particulate Meter di pemukiman warga sempat menembus angka PM 2.5: 278 dan PM 10: 1.447—jauh melebihi ambang batas aman.

Dinas Kesehatan Kota Ternate bersama BPBD telah mendirikan 2 Poskeskel Darurat dengan mengerahkan 14 tenaga medis guna memantau dan menangani gangguan pernapasan (ISPA), dengan prioritas perlindungan pada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.

Untuk memastikan kelancaran penuntasan sisa titik api, Kalak BPBD Tonny S. Pontoh menggarisbawahi dua kebutuhan logistik mendesak:

  1. Kepastian Pasokan BBM (Solar/Dexlite): Dukungan penuh dari Pertamina sangat dibutuhkan untuk memprioritaskan pasokan BBM bagi operasional nonstop alat berat dan mobil tangki air.
    2. Alat Pelindung Diri (APD) Khusus: Kebutuhan sarung tangan anti-panas dan masker respirator (anti-gas metana) bagi petugas di titik nol guna mencegah risiko asfiksia akibat paparan asap beracun.

“Seluruh unsur yang terlibat sangat optimistis dapat menyelesaikan kejadian ini. Dengan dukungan BBM yang lancar, ketersediaan APD yang memadai, serta sinergi lintas instansi yang solid, kami yakin kondisi TPA Takome akan segera pulih total,” tutup Tonny optimis.