UTF-8"> Banjir dan Longsor Halbar Dua Warga Meninggal, 3.444 Jiwa Terdampak - KABAR27
DAERAH  

Banjir dan Longsor Halbar Dua Warga Meninggal, 3.444 Jiwa Terdampak

Kondisi Kecamatan Ibu pasca banjir bandang (istimewa)
Kondisi Kecamatan Ibu pasca banjir bandang (istimewa)

KabarHalbar– Hujan dengan intensitas ekstrem mencapai 135 milimeter turun deras pada Selasa 6 Januari 2026, memicu banjir bandang dan tanah longsor yang melumpuhkan lima kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat

Hingga Kamis, (8/1/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara mengonfirmasi bahwa bencana hidrometeorologi ini telah menelan dua korban jiwa. Kedua korban merupakan warga Desa Soasio, Kecamatan Loloda, yang meninggal dunia setelah tertimbun material tanah longsor saat sedang beristirahat di rumah mereka.

Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara, Fehby Alting, menyebutkan bahwa skala bencana kali ini merupakan salah satu yang terbesar di wilayah tersebut.

Berdasarkan data asesmen sementara, berikut adalah sebaran dampak terhadap warga. Korban jiwa 2 orang meninggal dunia (Desa Soasio, Kec. Loloda). Warga terdampak 3.444 jiwa atau sekitar 726 kepala keluarga (KK). Pengungsi sekitar 1.500 jiwa kini terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Titik pengungsian tersebar di beberapa lokasi aman, mulai dari Balai Desa, gedung sekolah dasar (SD) Tongute Ternate, hingga menumpang di rumah kerabat yang berada di dataran tinggi. Di Desa Gamlamo saja, tercatat 500 warga melakukan evakuasi mandiri untuk menghindari luapan sungai yang kian meninggi.

Selain korban jiwa, terjangan air dan lumpur meluluhlantakkan ratusan hunian warga. Data BNPB mencatat kerusakan bangunan meliputi rumah tinggal 34 unit rusak berat, 3 unit rusak sedang, dan 286 unit rusak ringan.

Sementara fasilitas publik, jembatan penghubung Desa Tongute dan Desa Gamlamo dilaporkan roboh, serta satu unit pasar di Desa Gamici mengalami rusak berat.

Akses logistik ke wilayah paling parah, yakni Kecamatan Loloda, sempat lumpuh total akibat timbunan longsor di ruas jalan Ibu-Kedi. “Bupati Halmahera Barat bersama tim gabungan sempat berupaya menuju lokasi, namun akses jalan yang putus membuat evakuasi berjalan lamban,” ujar Fehby dalam laporan resminya.

Merespons situasi yang kian genting, Bupati Halmahera Barat James Uang secara resmi telah menetapkan Status Tanggap Darurat selama tujuh hari, terhitung sejak 7 hingga 13 Januari 2026. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengerahan personel TNI, Polri, Basarnas, serta distribusi bantuan logistik.

Saat ini, kebutuhan mendesak bagi para pengungsi mencakup tenda darurat, matras, selimut, makanan siap saji, perlengkapan bayi, serta paket kebersihan. Pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada, mengingat prediksi cuaca ekstrem dari BMKG masih akan membayangi wilayah Maluku Utara hingga 11 Januari mendatang.