Kabar27– Sejumlah orang tua wali murid mendatangi Posko Pengaduan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Menengah Atas (SMA) Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara di kawasan Kalumpang, Ternate. Kedatangan mereka bertujuan untuk menyampaikan keluhan terkait sistem pendaftaran daring (online) yang dinilai tidak jelas dan minim informasi.
Para orang tua mengeluhkan ketiadaan petunjuk teknis (juknis) maupun tutorial pendaftaran yang detail. Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya karena saat mendatangi posko, tidak ada panitia inti yang dapat ditemui, melainkan hanya staf biasa.
“Seharusnya sosialisasi SPMB dilakukan jauh hari, minimal tiga bulan sebelumnya, lengkap dengan penjelasan tata cara pendaftaran hingga selesai. Memang sempat ada simulasi selama tiga hari, namun detail teknis seperti kriteria prestasi akademik dan non-akademik, cara menghitung nilai rata-rata, hingga syarat lainnya belum dipahami oleh orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, keluhan tersebut sudah disampaikan sejak awal masa pendaftaran, namun hingga kini belum ada solusi maupun respons memadai dari pihak panitia. Permasalahan yang muncul sangat beragam, mulai dari jalur prestasi, jalur zonasi, hingga jalur mutasi. Salah satu kendala teknis yang paling banyak dikeluhkan adalah akun siswa yang tidak bisa diakses.
Ironisnya, saat kendala terjadi, pihak panitia justru mengarahkan orang tua untuk menempuh jalur luring (offline) setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sebuah opsi yang ditolak oleh banyak orang tua karena ketidakpastian status anak mereka.
Lebih lanjut, orang tua murid merasa kecewa dengan sikap panitia saat mereka menuntut perbaikan. “Ketika kami mengancam akan melaporkan masalah ini kepada Gubernur Maluku Utara, Ibu Sherli Tjoanda Laos, panitia justru balik menantang. Mereka bahkan mengakui bahwa sistem yang digunakan saat ini memang tidak maksimal,” ungkapnya.
Selain masalah sistem, kendala lain meliputi keterlambatan verifikasi akun yang menyebabkan siswa kehilangan waktu pendaftaran. Ditemukan pula kebijakan yang membingungkan di lapangan; contohnya, orang tua asal Jailolo yang berada di Ternate diarahkan untuk kembali ke daerah asal demi melakukan pendaftaran.
“Banyak yang bingung karena tidak ada tempat untuk bertanya langsung kepada panitia yang berwenang. Terakhir, ada juga temuan di mana siswa dengan nilai akademik yang bagus justru dinyatakan tidak lolos,” tutupnya heran.
