Kabar27– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi yang diperkirakan melanda sebagian besar perairan di wilayah Maluku Utara, pada periode 3 hingga 6 Juli 2026.
Prakirawan BMKG Ternate, Marina Zahrina Ismah Albaar, menjelaskan, situasi ini dipicu oleh pola pergerakan angin di wilayah Indonesia.
Di bagian utara khatulistiwa, angin umumnya bergerak dari Tenggara hingga Barat Daya dengan kecepatan 5 – 20 knot. Sementara di bagian selatan, angin bergerak dari Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 5 – 25 knot.
“Rata-rata tinggi gelombang di perairan Maluku Utara saat ini diprediksi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter,” ungkap Marina sebagaimana dikutip dalam rilis resmi BMKG Ternate pada, Kamis (2/7/2026).
Berdasarkan data BMKG, tinggi gelombang tersebut berpeluang terjadi di sejumlah titik perairan Wilayah Morotai dan Halmahera: Perairan Barat Laut Morotai, Timur Laut Morotai, Kepulauan Loloda, Halmahera Barat, Timur Kepulauan Halmahera, dan Teluk Weda.
Selain itu, tinggi gelombang juga berpeluang terjadi di Wilayah Ternate dan Kepulauan Sula/Taliabu: Perairan Ternate, Barat Kayoa, Barat Bacan, Gebe, Utara Mangoli, Timur Sanana, Barat Sanana, dan Perairan Selatan Taliabu.
Wilayah Pulau Obi, meliputi Perairan Barat Laut Obi, Barat Daya Obi, Timur Laut Obi, dan Tenggara Obi.
Kondisi gelombang tinggi dan angin kencang ini dinilai sangat berisiko bagi keselamatan aktivitas di laut.
BMKG juga memberikan rincian batas aman berdasarkan jenis armada:
- Perahu Nelayan: Berisiko tinggi jika kecepatan angin di atas 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.
- Kapal Tongkang: Berisiko tinggi jika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter.
Merespons potensi bahaya tersebut, BMKG mengimbau para nakhoda, motoris, serta masyarakat pengguna jasa transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan selama berlayar.
Masyarakat dan perusahaan pelayaran diminta untuk tidak memaksakan diri dan sebaiknya menangguhkan keberangkatan jika kondisi laut memburuk demi keselamatan bersama.
Selain itu, publik diharapkan terus memantau informasi terkini mengenai cuaca dan gelombang melalui kanal resmi BMKG serta instansi berwenang setempat.
